Vans Grand Indonesia Re-opening: Where Skate culture meets art & design
Bukan sekadar toko sepatu
Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah brand dengan sejarah panjang di dunia skateboarding memutuskan untuk re-opening ruang retail dengan pendekatan yang berbeda.
Pada 30 Oktober 2026, Vans membuka kembali gerainya di Grand Indonesia, Jakarta, dengan konsep retail terbaru yang untuk pertama kalinya diperkenalkan di Asia Tenggara. Bukan hanya menghadirkan tampilan toko yang lebih fresh, konsep ini mencoba membawa berbagai elemen yang selama ini dekat dengan identitas Vans, mulai dari skateboarding, seni, musik, hingga desain, ke dalam satu ruang.
Dengan luas sekitar 100 meter persegi, gerai ini mengambil inspirasi dari suasana Southern California, tempat kultur Vans tumbuh dan berkembang bersama komunitas skateboard.
Begitu memasuki area toko, salah satu hal yang langsung terasa adalah perubahan karakter desainnya. Dinding beton ekspos, material metal berwarna abu-abu, serta permainan bentuk geometris memberikan kesan industrial yang mengingatkan pada karakter sebuah skatepark.
Bukan lagi sekadar deretan rak sepatu dan apparel, tetapi ruang yang mencoba memperlihatkan bagaimana identitas sebuah brand bisa diterjemahkan melalui arsitektur dan karya kreatif.
Skateboarding heritage dalam ruang retail
Salah satu instalasi yang menjadi perhatian adalah OFF (THROUGH) THE WALL, karya Rony Rahardian atau yang dikenal sebagai Rebellionik.

Mengambil inspirasi dari waffle sole khas Vans, instalasi ini menggabungkan material metal, aluminium, kayu, stiker, dan cermin. Sebuah interpretasi artistik terhadap identitas Vans dan semangat untuk terus bereksplorasi.
Selain Rebellionik, beberapa seniman lokal juga ikut memberikan karakter pada ruang ini. Di antaranya The Popo dengan karya Layers of The System, Anoma Studio melalui ornamen keramik dan skate deck keramik, Holiday/Ceramic dengan karya Vans Authentic berbahan keramik, Senikanji, serta Dwiky KA.
Kehadiran karya-karya tersebut memberikan perspektif menarik tentang bagaimana skateboard tidak hanya berhenti sebagai aktivitas olahraga, tetapi juga punya hubungan erat dengan seni visual, desain, dan ekspresi personal.
Three special footwear releases
Bagi penggemar footwear, pembukaan ini juga menjadi kesempatan untuk melihat tiga rilisan spesial yang diperkenalkan bersamaan dengan dibukanya gerai.

Pertama adalah Premium Old Skool 36 Harris Tweed®, yang menggabungkan siluet klasik Style 36 dengan material Harris Tweed. Tekstur wool khas Skotlandia dipadukan dengan berbagai detail embellishment yang memberikan karakter berbeda dari Old Skool yang biasa kita temui.
Berikutnya, Premium Old Skool 36 Flames hadir dengan grafis api yang memberikan tampilan lebih ekspresif. Sementara itu, rilisan ketiga adalah VANSZA Authentic Kickdown, bagian dari kolaborasi Vans bersama musisi SZA.
Ketiganya memiliki pendekatan desain yang berbeda, tetapi tetap membawa identitas siluet klasik Vans.
Ada sedikit cerita menarik dari VANSZA Authentic Kickdown. Sepatu ini memiliki bagian heel yang bisa dilipat sehingga dapat digunakan sebagai sepatu biasa maupun slip-on. Desain tersebut terinspirasi dari kebiasaan SZA yang sering menginjak bagian belakang sepatunya ketika mengenakannya. Sebuah kebiasaan sehari-hari yang kemudian diterjemahkan menjadi elemen desain.
Mengapa Old Skool 36 masih relevan bagi skater?
Ada alasan mengapa Old Skool menjadi salah satu siluet paling ikonis dalam sejarah Vans. Diperkenalkan pada 1977 dengan nama Style 36, model ini merupakan sepatu pertama Vans yang menggunakan Sidestripe ikonis.
Lebih dari sekadar desain, Old Skool juga punya hubungan langsung dengan perkembangan skateboarding. Panel suede pada bagian depan memberikan perlindungan ekstra terhadap gesekan griptape, salah satu kebutuhan penting bagi skateboarder pada masa itu.
Menariknya, perlu dibedakan bahwa Premium Old Skool 36 yang diperkenalkan dalam acara ini merupakan interpretasi premium dari siluet klasik tersebut, bukan model Skate Old Skool yang secara khusus dilengkapi teknologi performa skate modern.
Bagi skater, sejarah seperti ini membuat sebuah siluet punya cerita lebih dari sekadar tampilannya.
FRIDAY, I'M IN VANS: More than a store opening
Untuk merayakan pembukaan ini, Vans juga mengadakan gathering bertajuk FRIDAY, I'M IN VANS, yang mempertemukan friends and families dari Vans Indonesia.
Salah satu sesi yang menarik adalah The Wafflesound Talks, menghadirkan Baskara Putra dari Hindia dan Sammy Bramantyo dari Seringai. Keduanya berbagi cerita mengenai hubungan musik, kreativitas, dan ekspresi personal.
Ada pula sesi The Art of Recycle bersama Rebellionik dan Robert Wanasida dari Kopi Nako Daur Baur, yang membahas proses kreatif di balik karya dan instalasi artistik yang hadir di dalam gerai.
Rangkaian ini memperlihatkan bahwa Vans ingin membawa lebih banyak elemen budaya ke dalam pengalaman retail-nya. Skateboarding, musik, dan seni memang punya hubungan yang sudah lama terjalin, dan acara seperti ini menjadi salah satu cara untuk mempertemukan berbagai lingkaran kreatif tersebut.
A new destination for the skate community?
Pada akhirnya, kehadiran konsep baru Vans Grand Indonesia memberikan perspektif menarik tentang bagaimana sebuah brand dengan akar skateboarding terus berkembang mengikuti zaman.

Di satu sisi, Vans tetap membawa siluet dan identitas yang sudah melekat dengan kultur skateboard selama puluhan tahun. Di sisi lain, brand ini juga terus bereksperimen melalui kolaborasi, material, seni, dan pendekatan desain yang lebih luas.
Bagi skateboarder, tentu menarik untuk melihat bagaimana warisan skateboarding tersebut diterjemahkan ke dalam ruang yang bisa dikunjungi, dinikmati, dan dieksplorasi oleh lebih banyak orang.
Dan mungkin, itulah salah satu hal yang membuat Vans tetap relevan: skateboarding bukan hanya tentang sepatu yang digunakan di atas board, tetapi juga tentang kultur, kreativitas, dan komunitas yang tumbuh di sekitarnya.